POTRETNEWS.ID, POHUWATO – Memasuki usia ke-23 pada 25 Februari 2026, perjalanan panjang daerah ini kembali dikenang melalui kisah sejarah yang melibatkan tokoh, peristiwa, dan lahirnya jargon pembangunan daerah.
Salah satu nama yang tak terpisahkan dari memori itu adalah E.E. Mangindaan, Gubernur Sulawesi Utara periode 1995–2000, yang pernah berperan meredam polemik penentuan ibu kota Boalemo saat daerah tersebut baru berdiri tahun 1999.
Mangindaan, penerus kepemimpinan C.J. Rantung, dikenal luas dengan semboyan persatuan “Enjoy Yes” dan “Torang Samua Basudara” yang populer hingga wilayah Gorontalo, kala itu masih menjadi bagian Sulawesi Utara.
Dalam upaya menjaga stabilitas wilayah multi-etnis, ia bahkan memimpin dengan dua wakil gubernur sekaligus yang membidangi ekonomi dan birokrasi.
Kunjungan Penentu di Tengah Polemik Ibu Kota. Setelah pembentukan Boalemo, muncul perdebatan sengit terkait penetapan ibu kota antara Tilamuta dan Marisa.
Tilamuta mengandalkan kekuatan historis, sementara Marisa didukung posisi strategis dan potensi sumber daya alam, dengan dukungan wilayah seperti Popayato dan Paguyaman.
Situasi yang memanas membuat Mangindaan turun langsung berdialog dengan masyarakat.
Dalam kunjungannya di SMP Negeri 1 Marisa, ia didampingi sejumlah pejabat termasuk Idris Rahim, yang kala itu diperkenalkan sebagai calon Sekda Boalemo.
Hadiah Jam Tangan dan Dialog Pemuda
Dalam sesi tanya jawab, seorang perwakilan pemuda menyampaikan aspirasi agar pemerintah bijak menyikapi pasal kontroversial soal ibu kota agar tidak memicu perpecahan.
Ia juga menyinggung potensi kawasan produksi Marisa–Bintauna sebagai pusat pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan.
Menanggapi hal itu, Mangindaan secara spontan melepas jam tangan yang dikenakannya dan menghadiahkannya kepada penanya sebagai bentuk apresiasi.
Benda tersebut kini masih tersimpan sebagai kenangan sejarah, bahkan kerap dikenang oleh Iwan Adam, yang kini menjabat Wakil Bupati.
Lahirnya Istilah “Kawasan Tumbuh Cepat”.
Dalam penjelasannya saat dialog, Mangindaan menyatakan optimisme bahwa Marisa merupakan kawasan dengan potensi pertumbuhan pesat. Dari sanalah istilah “kawasan tumbuh cepat” atau “Katupat” diperkenalkan.
Gagasan itu kemudian diusulkan kembali pada 2025 sebagai nama konsep Proyek Strategis Nasional daerah, dalam forum yang dihadiri pejabat seperti Irfan Saleh dan Risdiyanto Mokodompit, dan akhirnya disepakati.
Buah Perjuangan Pemekaran
Perjalanan sejarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjuangan panjang hingga lahirnya Kabupaten Pohuwato sebagai daerah otonomi baru melalui UU Nomor 6 Tahun 2003.
Pembentukan daerah ini tak lepas dari peran tokoh sentral almarhum Uns Mbuinga bersama para pejuang lainnya.
Kini, di usia ke-23, Pohuwato terus meneguhkan jati dirinya sebagai wilayah multietnis yang hidup rukun, mencerminkan semangat persatuan Indonesia di bagian utara Pulau Sulawesi.
Penulis: Kadisdik Arman Mohamad







