Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Usai Penertiban Tambang, Pedagang di Pasar Marisa Menjerit Omzet Anjlok hingga 50 Persen

×

Usai Penertiban Tambang, Pedagang di Pasar Marisa Menjerit Omzet Anjlok hingga 50 Persen

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

POTRETNEWS.ID, POHUWATO – Penertiban aktivitas pertambangan di wilayah Kabupaten Pohuwato ternyata membawa efek domino yang tak main-main. Aktivitas jual beli di Pasar Rakyat Marisa, Kecamatan Marisa, mendadak lesu dan nyaris lumpuh. Pasar tradisional terbesar di jantung ibu kota kabupaten itu kini tampak seperti kehilangan denyut nadinya.

Pantauan awak media, Rabu (14/01/2026) sore, sekitar pukul 16.00 hingga 17.30 WITA, suasana lengang sudah terasa sejak memasuki gapura pasar. Deretan lapak pedagang tampak sepi, tanpa hiruk-pikuk tawar-menawar yang biasanya menjadi ciri khas Pasar Marisa.

banner 325x300

Sejumlah pedagang mengaku kondisi ini mulai dirasakan sejak penertiban aktivitas pertambangan dilakukan. Salah satunya Yul, pedagang rempah-rempah, yang mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut berdampak langsung pada pendapatannya.

“Sejak aktivitas pertambangan dorang tertibkan, itu sangat berdampak skali pa torang,” ujar Yul dengan nada kecewa.
Menurutnya, selama ini pasar hidup dari perputaran uang para penambang.

Mereka bukan sekadar belanja harian, tetapi berbelanja besar-besaran untuk kebutuhan berhari-hari di lokasi tambang.

“Penambang kalau beli rempah-rempah, dorang beli banyak. Sampe kiloan. Itu untuk kebutuhan dorang di tambang,” jelasnya.

Kini, kondisi itu tinggal cerita. Yul mengaku omzet dagangannya anjlok hingga 40 sampai 50 persen.

“Sekarang pendapatan menurun jauh. Sekitar 40 sampai 50 persen. Itu hitungan saya sendiri,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, pembeli yang tersisa saat ini hanyalah ibu rumah tangga dengan daya beli terbatas.

“Kalau ibu-ibu rumah tangga paling beli secukupnya. Beda dengan penambang yang biasa ba borong,” katanya.

Fenomena lain yang ikut menghilang adalah keberadaan ojek tambang atau yang akrab disebut “kijang-kijang tambang”.

“Sekarang so tidak ada lagi itu kijang-kijang tambang di pasar. Biasanya dorang yang disuruh penambang ba beli kalau kancang lobang,” tuturnya.

Keluhan senada juga disampaikan Alan Polumulo, pedagang telur. Ia menyebut dampak penertiban tambang terasa sangat signifikan terhadap pendapatannya.

“Jelas ada penurunan dan sangat berefek. Penambang-penambang sejak hari Senin so tidak nampak lagi di pasar,” ujarnya.

Padahal sebelumnya, Alan kerap melayani pembelian dalam jumlah besar hingga harus mengantar langsung ke kendaraan pembeli.

“Kalau kemarin, saya sampe antar telur ke oto. Sekali turun pasar bisa borong 10 bak, bahkan ada yang sampai 20 bak,” bebernya.

Namun kini, suasana pasar berubah drastis. Dari yang biasanya ramai dan penuh transaksi, kini terasa sunyi dan dingin.

“Dari hari Senin itu so mulai sunyi. Sekarang baru benar-benar terasa,” pungkas Alan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *