POTRETNEWS.ID, GORONTALO – Pengunduran diri Rektor Universitas Gorontalo, Sofyan Abdullah, pada 3 September 2025 kemarin sempat membuat civitas akademika terkejut.
Pasalnya, surat pengunduran diri yang disampaikan ke Senat Universitas tidak mencantumkan alasan jelas.
Kendati demikian, selama tiga tahun lebih Sofyan menjabat sebagai rektor, koordinasi dengan pihak senat maupun Yayasan Pendidikan DLP Gorontalo berjalan baik.
Tanpa ada persoalan yang mendesak, keputusan muncul tiba-tiba ketika adanya surat pengunduran diri tersebut.
Karena Perguruan Tinggi memiliki mekanisme tersendiri. Sehingga, Senat merekomendasikan kepada Yayasan untuk segera menunjuk Pejabat Rektor.
Mengingat, Universitas Gorontalo saat ini sudah memasuki tahun akademik 2025/2026.
Proses Sesuai Mekanisme
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan DLP Gorontalo, Rolli Paramata memastikan, bahwa seluruh proses telah berjalan sesuai mekanisme yang berlaku.
“Alhamdulillah, proses pengunduran diri rektor ini sudah berjalan sebagaimana mekanisme yang diatur dalam SOP, yang berlaku di yayasan maupun Universitas,” kata Rolli saat dimintai tanggapannya, Kamis (4/9/2025).
Penunjukan Pj Rektor
Setelah seluruh standar yang ditetapkan senat universitas selesai dijalankan, maka Yayasan akan menindaklanjuti dengan menunjuk pejabat rektor.
Pejabat tersebut, kata Rolli, yang akan bertugas menyiapkan pemilihan rektor definitif sekaligus mengawal sejumlah kebijakan tata kelola Universitas Gorontalo ke depan.
Rolli menegaskan, bahwa pihaknya tidak akan mengganggu stabilitas struktural yang sudah ada di tingkatan rektorat.
“Kita dari Yayasan akan mengambil mungkin di antara pengurus yayasan yang akan kita tempatkan sebagai PJ Rektor untuk masa yang singkat, kemungkinan besar dua atau tiga bulan untuk mempersiapkan pemilihan rektor,” jelasnya.
Rasa Memiliki Universitas
Lebih lanjut, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan DLP Gorontalo juga bersyukur, bahwa pasca pengunduran diri Sofyan Abdullah tidak menimbulkan riak apapun di lingkungan kampus.
Hal ini disebutnya, sebagai bentuk kedewasaan Universitas Gorontalo dalam menghadapi dinamika organisasi ataupun kelembagaan.
“Alhamdulillah dengan posisi sekarang ini rektor mundur dan tidak ada riak-riak, ini menandakan kedewasaan dari Universitas Gorontalo dalam rangka menghadapi situasi-situasi seperti ini,” ujar Rolli Paramata.
Dengan begitu, kata dia, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan rasa memiliki yang tinggi dari seluruh pihak terhadap Universitas Gorontalo.
“Ini bukti salah satu kedewasaan kita dalam berorganisasi, sehingga mungkin ini menjadi contoh bagi teman-teman lain bahwa perguruan tinggi itu harus tetap dengan standar proses yang berlaku dengan rasa yang sama untuk memiliki Universitas ini secara bersama-sama untuk bertanggungjawab,” tutupnya. (*)











