“Hari lahir Kohati ke-59, sejatinya bukan hanya peringatan, tetapi sebuah momentum refleksi”
***
POTRETNEWS.ID, OPINI – Haru sering kali hadir dalam setiap perayaan, namun lebih dari itu, ada amanah besar yang menanti untuk diwujudkan.
Di Gorontalo, tantangan sosial masih terasa berat. Persoalan kekerasan seksual terus menghantui, menjadi luka yang belum sepenuhnya terobati. Kasus demi kasus seakan menjadi cermin betapa perlindungan terhadap perempuan masih lemah.
Di sisi lain, masih ada keraguan sebagian pihak terhadap peran perempuan dalam pembangunan daerah. Seolah perempuan hanya pelengkap, bukan penggerak utama.
Padahal sejarah membuktikan, bahwa perempuan memiliki daya juang yang sama besar dalam menggerakkan perubahan.
Kohati, sebagai wadah kaderisasi perempuan di Himpunan Mahasiswa Islam, lahir untuk mengikis keraguan itu. Tugasnya bukan hanya mengingatkan, tetapi menawarkan solusi. Solusi dalam bentuk gagasan, gerakan, advokasi, hingga keberanian hadir di ruang-ruang strategis pembangunan.
Haru memang wajar ketika kita mengenang perjalanan panjang Kohati. Namun bila berhenti pada haru saja, maka hari lahir itu hanya menjadi seremoni tanpa makna.
Justru saat inilah Kohati harus menjawab tantangan: bagaimana menghadirkan peran nyata dalam menekan angka kekerasan seksual, menguatkan posisi perempuan, dan memastikan mereka terlibat dalam pembangunan Gorontalo.
Hari lahir Kohati adalah panggilan. Panggilan agar perempuan tidak lagi diragukan, dan agar setiap langkah yang diambil menjadi cahaya bagi perubahan. Sebab jika kita hanya diam, maka yang tersisa hanyalah haru—bukan sejarah baru bagi lahirnya Kohati.
Kohati dan Persoalan Daerah
Hari lahir Kohati bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah panggilan, jeritan hati yang meminta bukan hanya dikenang — tapi direspon dengan nyata. Haru mungkin menyelimuti saat kita mendengar kisah-kisah penderitaan — tapi jika tak diikuti dengan aksi, maka “hari lahir Kohati” akan tinggal sebagai upacara, bukan sebagai tonggak perubahan.
Berbicara soal angka kekerasan, pada tahun 2024, tercatat sebanyak 187 kasus kekerasan terhadap anak di Provinsi Gorontalo. Dari jumlah itu, 154 dialami oleh anak perempuan, dan 33 oleh anak laki-laki.
Untuk kasus kekerasan seksual spesifik, pada 2023 Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2PA) Gorontalo melaporkan 296 kasus, yang menyentuh 313 korban. Korban terutama perempuan dan anak.
Di Gorontalo Utara, hingga Juni 2025 tercatat 25 kasus kekerasan seksual pada anak, dibandingkan 60 kasus sepanjang tahun 2024. Kasus kekerasan seksual anak juga sering terjadi di lingkup keluarga atau orang terdekat, bahkan guru dan tetangga. Ada kasus yang melibatkan oknum guru di tingkat SMA.
Namun, lambatnya penanganan dan masih banyak yang memilih diam karena berbagai faktor — tekanan sosial, rasa takut, hubungan keluarga, rasa empati terhadap pelaku — menjadi penghambat keadilan. Komnas HAM bahkan menyatakan bahwa Gorontalo menghadapi situasi yang darurat kekerasan seksual.
Keraguan terhadap Peran Perempuan
Data di atas hanya satu sisi masalah. Di sisi lain, masih mengemuka keraguan terhadap peran perempuan dalam pembangunan daerah. Beberapa fenomena, perempuan sering dibatasi perannya di ruang publik dan politik, di banyak daerah, dan kadang dianggap hanya pelengkap.
Dalam banyak kebijakan dan program pembangunan, partisipasi perempuan masih rendah, atau jika ada, kurang diberi akses, dukungan, atau pengakuan penuh.
Diskusi publik dan media, kadang mengabaikan suara perempuan korban atau aktivis perempuan sebagai subjek utama, lebih menyoroti aspek sensasional dari kasus, bukan solusinya.
Solusi yang Harus Kohati Usung
Karena haru tak boleh berhenti sebagai simpati. Maka Kohati sebagai organisasi perempuan mahasiswa Islam, punya posisi strategis dan moral untuk menghadirkan solusi. Beberapa hal yang bisa dijadikan langkah nyata:
1. Pendidikan dan literasi sejak dini
Sosialisasi mengenai kekerasan seksual di sekolah dan lingkungan keluarga. Literasi digital, agar anak dan remaja memahami kemungkinan ancaman seksual online, dan bagaimana melaporkannya.
2. Penguatan dukungan legal dan pemulihan korban
Advokasi agar korban mendapat akses mudah ke layanan hukum dan pendampingan psikologis. Memastikan bahwa pelaku diproses cepat dan adil, tanpa intimidasi atau intervensi sosial yang merugikan korban.
3. Pemberdayaan perempuan dalam pembangunan daerah
Membuka ruang kebijakan lokal agar perempuan diberi kesempatan setara dalam jabatan, kepemimpinan desa, kecamatan, dan provinsi. Mendukung perempuan sebagai pelaku ekonomi, wirausaha, inovator komunitas.
4. Kolaborasi lintas sektor
Bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga penegak hukum, organisasi masyarakat sipil (termasuk organisasi perempuan), media, dan tokoh agama untuk membangun budaya penghormatan terhadap perempuan dan anak. Memantau dan mendukung implementasi regulasi seperti Undang‐Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), dan regulasi daerah yang melindungi hak perempuan dan anak.
5. Pemberdayaan korban dan pencegahan trauma
Fasilitasi layanan konseling, rehabilitasi, pemulihan sosial kemudian reintegrasi korban ke lingkungan sosial yang suportif.
6. Edukasi keluarga dan masyarakat agar korban tidak dikucilkan, melainkan dilindungi dan didengarkan.
Haru vs Hari Lahir: Kenapa Diam Bukan Solusi
Diam terkadang muncul karena takut, karena stigma, karena norma yang menganggap masalah kekerasan seksual adalah “urusan pribadi” atau “aib keluarga”. Atau karena merasa suara kecil dan tak akan didengar.
Namun, setiap diam memberi ruang bagi kasus-kasus baru untuk tumbuh. Setiap ketidakberdayaan kita memperpanjang penderitaan. Haru yang hanya menjadi air mata tidak cukup — hari lahir Kohati harus menjadi momentum aksi.
Ketika Kohati merayakan hari lahirnya, semoga bukan hanya mars kohati dan sambutan, tetapi juga janji-janjinya digenapi. Bahwa tiap perempuan dan anak di Gorontalo merasakan perlindungan, keadilan, ruang untuk tumbuh dan berkontribusi.
Penutup
Dalam konteks ini, hari lahir KOHATI mestinya menjadi peringatan bahwa kita punya tanggung jawab. Bukan hanya untuk mengingat — tetapi untuk mendorong perubahan. Haru adalah pintu masuk; solusi adalah langkah keluar.
Semoga Kohati bisa menjadi kekuatan positif yang membangkitkan suara perempuan, yang menuntut keadilan, dan memperjuangkan pembangunan yang inklusif di Gorontalo. Jangan biarkan hanya ada haru — jadikan ia hari kelahiran perubahan.
Selamat Milad KOHATI-ku, 17 September 2025.









