Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahGorontaloHeadline

Mengenal Upiah Karanji, Peci Anyaman Gorontalo “Simbol Kewibawaan” di Penas KTNA 2026

×

Mengenal Upiah Karanji, Peci Anyaman Gorontalo “Simbol Kewibawaan” di Penas KTNA 2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Gorontalo, Potretnews.id – Suasana setiap malam di kawasan Taman budaya Limboto dan beberapa stand pameran, Kabupaten Gorontalo, dipadati menjadi lautan manusia. Penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII tahun 2026 yang tengah berlangsung sukses menyedot perhatian puluhan ribu pengunjung dari berbagai penjuru tanah air.

banner 325x300

Di tengah hiruk-pikuk stan pameran agribisnis dan teknologi pertanian, satu sudut pameran produk kerajinan tradisional tampak tak pernah sepi dari serbuan para delegasi dan warga lokal. Mereka berkerumun, mengamati, dan mencoba Upiah karanji, peci anyaman khas Gorontalo yang kini tengah naik daun sebagai salah satu cinderamata paling diburu.

Momen Pekan Nasional (PENAS) ini membawa berkah melimpah bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal yang menjajakan produk kerajinan anyaman tersebut. Peningkatan jumlah pengunjung yang sangat masif berbanding lurus dengan lonjakan angka penjualan yang dirasakan oleh para pedagang.

Beberapa pelaku usaha yang ditemui di lokasi mengungkapkan, volume transaksi pada malam Minggu kemarin meningkat berkali-kali lipat dibandingkan hari-hari biasa sejak pameran ini dibuka.

Kehadiran para peserta PENAS KTNA dari 38 provinsi di Indonesia yang mencari oleh-oleh autentik menjadi pemicu utama di balik bergairahnya ekosistem ekonomi kreatif di Bumi Serambi Madinah ini.

Harga yang ditawarkan di arena pameran sangat bervariasi, berkisar antara Rp100.000 hingga Rp400.000 per buah. Perbedaan nominal tersebut ditentukan oleh corak motif yang ditampilkan serta tingkat kesulitan dan kerapian anyamannya, bukan berdasarkan ukuran fisik semata.

“Saya rasa sekali pak, banyak orang ba beli ini upiah karanji. Alhamdulillah dari mereka tanya-tanya langsung beli,”Ungkap salah seorang penjual Upiah karanji.

Keberagaman harga ini memberikan fleksibilitas bagi para pembeli, mulai dari yang mencari kopiah fungsional untuk beribadah harian hingga kolektor yang memburu kualitas premium berestetika tinggi.

Upiah karanji atau kopiah keranjang bukanlah produk manufaktur massal, melainkan hasil karya tangan yang menuntut ketelitian dari para pengrajinnya.

Setiap helai anyamannya berasal dari tanaman paku hata (Lygodium circinnatum) yang oleh masyarakat setempat populer disebut dengan nama serat atau rumput mintu. Struktur batang mintu yang liat namun fleksibel memungkinkan para pengrajin untuk membentuk anyaman yang kokoh sekaligus lentur.

Tingkat kehalusan dan kerapian anyaman ini dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi kualitas yang secara langsung menentukan nilai jualnya di pasaran. Untuk kualitas kasar, pengrajin biasanya memerlukan waktu sekitar satu hingga dua hari pengerjaan per buah.

Serat mintu pada tipe ini diraut menggunakan pisau raut standar tanpa filter penyaring khusus. Dibanderol dengan harga berkisar antara Rp100.000 hingga Rp150.000, upiah karanji tipe ini menawarkan keunggulan berupa lubang sirkulasi udara yang lebih longgar, terasa sangat sejuk saat dikenakan, serta memberikan kesan estetika yang membumi.

Satu tingkat di atasnya, terdapat kualitas sedang yang membutuhkan waktu pembuatan sekitar dua hingga tiga hari. Pada kelas ini, pengrajin memadukan teknik pisau raut dengan pemilahan dwiwarna serat mintu, yaitu perpaduan warna putih alami dan cokelat gelap dari batang mintu asli untuk membentuk corak motif dekoratif yang khas. Peci bernilai estetika menengah ini dipasarkan dengan harga berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per buah.

Sementara itu, mahakarya sesungguhnya terletak pada upiah karanji kualitas halus atau premium yang menjadi incaran para kolektor dan pejabat. Pembuatannya menuntut ketelitian dengan durasi pengerjaan mencapai empat hari atau lebih untuk satu kopiah saja.

Pengrajin menggunakan pelat kaleng atau seng berlubang khusus untuk melakukan kalibrasi ukuran serat secara manual agar benar-benar halus, rapat, dan presisi. Hasil anyamannya menjadi sangat tipis, berbobot super ringan, serta memancarkan kesan yang sangat berwibawa bagi pemakainya.Kualitas upiah premium ini dihargai pada kisaran Rp350.000 hingga Rp400.000 di stan pameran.

Proses pembuatan Upiah karanji diawali dengan pemilihan batang mintu tua di hutan. Batang tersebut kemudian dibelah menjadi beberapa bagian pipih, dijemur di bawah terik matahari, lalu diraut sesuai tingkat kehalusan yang diinginkan.

Nilai Filosofis Upiah Karanji Gorontalo

Popularitas Upiah karanji yang bertahan melintasi zaman tidak terlepas dari nilai filosofis dan catatan sejarahnya yang mendalam. Dalam kebudayaan Gorontalo, peci anyaman ini merepresentasikan dua pilar karakter maskulin, yakni kepemimpinan yang berwibawa sekaligus kesederhanaan hidup yang membumi.

Rongga-rongga anyaman yang menyerupai struktur keranjang tidak hanya berfungsi praktis sebagai ventilasi udara agar kepala tetap sejuk, tetapi juga menyimpan pesan filosofis tentang pentingnya keterbukaan pikiran dan kelancaran komunikasi bagi seorang pemimpin dalam menyerap aspirasi rakyatnya.

Peserta Penas KTNA XVII, terutama dari daerah Sumatera Utara mengatakan, sebelum balik kampung halamannya di Kabupaten Asahan, ia tertarik membawa oleh-oleh Upiah karanji.

“Saya paling tertarik dengan Songkok itu (Upiah karanji), bagus. Ini Ikon Gorontalo yang harus jadi oleh-oleh saya,”harap pak Danur saat di wawancarai.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *