KABGOR – Budaya membaca kembali ditegaskan sebagai pilar utama pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif, cerdas, dan berkarakter di Kabupaten Gorontalo. Hal tersebut disampaikan Bunda Literasi Kabupaten Gorontalo, Hj. Maryam Sofyan Puhi, saat membuka perhelatan Festival Literasi di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo, Rabu (14/10/2026).
Dalam arahannya, Maryam mewanti-wanti agar Festival Literasi tidak sekadar menjadi ajang seremonial tahunan. Kegiatan ini harus dijadikan momentum kolektif untuk menghidupkan kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
“Budaya membaca harus dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga, sekolah, masyarakat, desa, hingga lingkungan pemerintahan,” tegas Maryam.
Untuk mempercepat terciptanya ekosistem membaca yang kokoh, Maryam memaparkan lima fokus strategis yang harus dijalankan bersama:
Literasi Sejak Dini: Mengajak para orang tua menjadi teladan utama dalam mengenalkan buku dan membangun minat baca anak di rumah.
Transformasi Perpustakaan: Mengubah perpustakaan dari tempat penyimpanan buku konvensional menjadi pusat kegiatan, diskusi, dan peningkatan keterampilan (upskilling) masyarakat.
Pemerataan Akses Bacaan: Memperluas jangkauan layanan perpustakaan keliling serta memperkuat perpustakaan desa, sekolah, dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Gerakan Berbasis Komunitas & “Satu Hari Satu Bacaan”: Melibatkan elemen PKK, Karang Taruna, dan organisasi lokal untuk memasyarakatkan kebiasaan membaca setidaknya satu bahan bacaan setiap hari.
Generasi Muda Sebagai Kreator: Mendorong pemuda tidak hanya menjadi pembaca pasif, melainkan aktif berkarya sebagai penulis, pendongeng, hingga pembuat konten digital yang positif.
Maryam menekankan bahwa penguatan literasi bukan semata-mata tugas dinas perpustakaan atau lembaga pendidikan, melainkan tanggung jawab lintas sektor. Secara khusus, ia mengimbau para kepala desa dan lurah se-Kabupaten Gorontalo untuk memprioritaskan alokasi fasilitas membaca seperti pojok baca dan perpustakaan desa.
“Pemerintah bergerak, perpustakaan melayani, sekolah mendidik, keluarga membiasakan, masyarakat menghidupkan, dan generasi muda berkarya,” ujar Maryam merangkum formula sinergi tersebut.
Menutup sambutannya, ia mengingatkan bahwa investasi terbaik untuk menghadapi tantangan zaman adalah meliterasi masyarakat agar cerdas menyaring informasi dan produktif dalam menghasilkan karya. (*)










