“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”
***
POTRETNEWS.ID – Kalau bicara soal demo, sebagian orang langsung terbayang kerumunan massa, spanduk besar, teriakan-teriakan, sampai kemungkinan ricuh dengan aparat.
Selain itu, ada juga yang melihatnya sebagai keributan yang bikin macet, ada juga yang menganggap sebagai bentuk keberanian rakyat untuk bersuara.
Namun, ada satu hal yang mungkin sering kita lupa, bahwa demo itu bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari ulah tangan manusia, khususnya mereka yang punya kuasa tapi gagal menjaga amanah.
Sekitar 1.400 tahun yang lalu, Al-Qur’an sendiri sudah mengingatkannya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: ayat 41).
Kalau kemudian kerusakan alam saja bisa terjadi karena ulah kita, apalagi kerusakan sosial dan politik? Demo adalah salah satu tanda bahwa ada yang retak di dalam tubuh masyarakat, dan retakan itu sering kali dibuat oleh keputusan-keputusan manusia yang salah arah.
Kebijakan yang Gagal
Setiap kali demo meletus, hampir selalu ada kebijakan yang jadi pemicunya. Entah itu undang-undang yang kontroversial, kerusakan lingkungan, atau bahkan kebijakan publik yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Semua itu lahir dari ruang gelap yang dipenuhi lobi-lobi, negosiasi kepentingan, dan ya, lagi-lagi ulah tangan manusia yang lebih sibuk memikirkan keuntungan pribadi, ketimbang keselamatan banyak orang.
Ketika bencana datang karena alam dieksploitasi, rakyat marah. Ketika hak mereka diabaikan, rakyat tak bisa diam. Jalanan akhirnya jadi ruang bicara, karena ruang dialog sudah disumbat oleh meja kopi.
Jalanan Sebagai Ruang Demokrasi
Kalau kita mundur sebentar ke sejarah, jalanan sudah berkali-kali jadi saksi perubahan besar. Reformasi 1998 misalnya, jelas bukan hasil dari ruang rapat di gedung parlemen, tapi dari suara rakyat di jalan.
Sama juga dengan demo-demo hari ini, menolak Undang-Undang, menolak penggusuran, menolak tambang-semuanya adalah koreksi rakyat terhadap kebijakan yang lahir dari tangan penguasa, tapi tidak berpihak pada mereka.
Di atas kertas, rakyat adalah pemegang kedaulatan. Tapi dalam praktiknya, suara rakyat sering cuma dianggap angka di kotak suara.
Setelah itu, janji tinggal janji, kebijakan lahir untuk segelintir, rakyat disuruh sabar. Di titik itulah demo hadir, sebagai pengingat: bahwa demokrasi bukan sekadar rutinitas lima tahunan, tapi tentang hajat hidup orang banyak sehari-hari.
Ironi di Lapangan
Yang bikin miris, demo sering berujung bentrokan. Rakyat akhirnya berhadapan dengan rakyat juga: massa dengan aparat.
Padahal, keduanya sama-sama manusia biasa, sama-sama korban dari sistem yang dikelola oleh segelintir elite.
Di lapangan, air mata dan gas air mata saling bertemu. Semua luka itu, sekali lagi, lahir dari ulah tangan manusia yang salah urus di atas sana.
Alarm Sosial
Demo itu sebenarnya alarm keras. Ia bukan asal ribut, tapi sinyal bahwa ada yang salah dengan cara negara dikelola.
Selama kebijakan masih lebih condong ke kepentingan segelintir orang, selama ulah tangan manusia masih sibuk mengamankan kursi dan kekayaan, maka jalanan akan tetap penuh dengan suara rakyat.
“Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat tadi jadi sangat relevan dengan keadaan sekarang ini: kerusakan, kericuhan, bahkan demo yang kita lihat, adalah cerminan dari ulah tangan manusia itu sendiri.
Dan mungkin, demo adalah cara Tuhan mengingatkan kita agar kembali, agar memperbaiki diri, agar tak terus mengulang kesalahan yang sama.











