POTRETNEWS.ID, POHUWATO – Tambang rakyat di Pohuwato bukan sekadar urusan emas, melainkan menjadi denyut ekonomi ribuan keluarga.
Hal itu disampaikan tokoh pemuda, Manuth Ishak, yang menilai sektor tambang rakyat menopang perputaran uang lebih dari Rp250 miliar per tahun di masyarakat Pohuwato.
“Ada sekitar 15 ribu jiwa yang menggantungkan hidup langsung di tambang, ditambah ribuan lainnya dari sektor turunan: 3.500 ojek kijang, 1.200 pedagang kecil, ratusan bengkel, warung makan, hingga pasar tradisional,” ujar Manuth, Sabtu (6/9/2025).
Ia menegaskan, penutupan tambang tanpa solusi akan melumpuhkan ekonomi desa.
“Bukan hanya penambang yang hilang penghasilan. Anak-anak kehilangan biaya sekolah, pedagang kehilangan pembeli, ojek kehilangan penumpang, dan dapur rakyat berhenti berasap,” katanya.
Menurut Manuth, pemerintah sering kali lebih cepat mengirim aparat ketimbang menawarkan jalan keluar.
“Negara hadir bukan untuk menakut-nakuti, melainkan memberi solusi. Jika tambang harus ditata, hadirkan regulasi yang adil. Jika rakyat harus diatur, maka berikan ruang hidup yang manusiawi,” jelasnya.
Ia mengingatkan tragedi 21 September 2023, ketika ribuan penambang kecil turun ke jalan hingga berujung pada pembakaran Kantor Bupati Pohuwato.
“Kejadian itu bukan sekadar anarkis, melainkan jeritan rakyat yang merasa diperlakukan tidak adil oleh negaranya sendiri,” ujarnya.
“Rakyat penambang bukan penjahat. Mereka hanya ingin hidup layak di tanah kelahiran sendiri. Menutup tambang tanpa solusi sama saja membunuh harapan ribuan keluarga miskin di Pohuwato,” sambungnya.
Ia juga menegaskan, negara seharusnya hadir sebagai pelindung, bukan sebagai alat segelintir elit yang menguasai sumber daya.
“Keadilan sosial tidak boleh berhenti sebagai slogan, ia harus hadir dalam kebijakan. Sebab jika rakyat dipaksa menyerah tanpa harapan, maka sejarah 21 September akan selalu menjadi peringatan: jangan pernah main-main dengan perut rakyat kecil,” pungkasnya. (*)











