POTRETNEWS.ID, POHUWATO – Ditanah Indonesia yang kaya akan tanah dan hutan, rakyat kecil seharusnya hidup damai di atas kekayaan alamnya sendiri.
Namun kenyataan berkata lain, di Kabupaten Pohuwato, suara rakyat perlahan tenggelam oleh deru alat berat dan kepentingan para pemilik modal.
Tanah yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi medan perebutan keuntungan.
Masyarakat kecil yang hidup dari bertani dan berkebun mulai kehilangan ruang hidupnya. Sungai yang dulu jernih berubah keruh, sawah tidak lagi menghasilkan seperti biasanya, dan udara dipenuhi debu tambang.
Ironisnya, penderitaan itu terjadi di tanah mereka sendiri. Mereka bukan pendatang, bukan penumpang, melainkan anak negeri yang diwariskan tanah oleh leluhurnya.
Kehadiran investor di bidang pertambangan awalnya datang membawa janji kesejahteraan. Rakyat dijanjikan lapangan pekerjaan, pembangunan daerah, dan kehidupan yang lebih baik. Tetapi yang dirasakan masyarakat justru sebaliknya.
Sebagian besar keuntungan hanya berputar di kalangan tertentu, sementara rakyat kecil menerima dampak kerusakan lingkungan dan hilangnya mata pencaharian.
Yang paling menyakitkan adalah sikap para pemimpin daerah yang lahir dari tanah yang sama. Mereka disebut “putra daerah,” dipilih oleh rakyat dengan harapan mampu melindungi kepentingan masyarakat.
Namun ketika suara rakyat meminta keadilan, pemerintah seolah menutup mata. Keluhan masyarakat sering dianggap angin lalu, demonstrasi dibalas dengan janji, dan penderitaan rakyat hanya menjadi berita sesaat.
Rakyat kecil mulai merasa asing di kampung halamannya sendiri. Mereka melihat tanah dijual, gunung dikeruk, dan hutan ditebang tanpa mampu menghentikan semuanya.
Banyak yang bertanya dalam hati: apakah pembangunan harus selalu dibayar dengan penderitaan rakyat? Sesungguhnya masyarakat tidak menolak kemajuan.
Mereka hanya ingin pembangunan yang adil, yang tidak merampas hak hidup rakyat kecil demi kepentingan segelintir orang.
Alam bukan hanya sumber kekayaan, tetapi juga warisan bagi generasi mendatang. Ketika alam rusak, yang pertama merasakan derita adalah rakyat kecil.
“Derita Rakyat di Tangan Putra Daerah”
bukan sekadar sebuah tema, melainkan gambaran tentang luka sosial yang nyata.
Ketika kekuasaan lebih dekat kepada modal dari pada rakyat, maka keadilan akan sulit ditemukan. Dan ketika suara rakyat terus diabaikan, maka yang tumbuh bukan kesejahteraan, melainkan kemarahan dan kehilangan harapan.
Penulis: Bakuni.











