POTRETNEWS.ID, Gorontalo – Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gorontalo (UG) telah rampung.
Hasilnya, pasangan Erlin Adam dan Syawal Madina keluar sebagai pemenang mutlak. Mereka mengantongi 577 dari total 660 suara mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya, dalam pemungutan suara yang digelar di halaman kampus UG, Senin (28/4/2025).
Sementara itu, sebanyak 63 suara memilih abstain dan 20 lainnya dinyatakan rusak. Perolehan suara yang signifikan ini menjadi penanda kuat bahwa mayoritas mahasiswa menaruh harapan besar pada pasangan Erlin-Syawal, yang selama ini dikenal aktif dalam advokasi kampus dan forum-forum kebijakan mahasiswa.
“Ini bukan sekadar soal menang atau kalah. Ini tentang harapan mahasiswa yang ingin melihat perubahan nyata,” ujar Erlin dalam pidato kemenangannya di pelataran kampus, yang disambut sorak-sorai para pendukung.
Dengan mengusung visi “Bersatu wujudkan BEM-UG yang progresif untuk Universitas Gorontalo dan rakyat”, keduanya berkomitmen membangun BEM yang lebih solid, inovatif, serta memiliki daya juang tinggi.
Lewat Panca Cita, mereka menjanjikan lima misi utama, dari penguatan internal pengurus hingga advokasi mahasiswa berbasis data.
Salah satu misi utamanya adalah membentuk BEM Care—program bantuan dan advokasi permasalahan mahasiswa.
Selain itu, mereka juga berencana menginisiasi Jurnal Mahasiswa UG, sebagai wadah kajian strategis dan budaya riset.
Komitmen untuk membangun relasi dengan pemangku kepentingan pun tak luput. Rektorat, organisasi mahasiswa, hingga media lokal disebut sebagai mitra strategis dalam mendorong perubahan kebijakan kampus.
Langkah mereka tidak berhenti di situ. Erlin-Syawal juga menyiapkan strategi transformasi BEM-UG kedepannya. Mulai dari digitalisasi administrasi, sistem KPI untuk pengurus, hingga penguatan kajian lewat pendirian BEM Data Center dan Media Watch UG.
“Perubahan nyata itu akan kami wujudkan sebagaimana yang tertera dalam visi-misi kami,” kata Syawal usai pengumuman hasil pemilihan.
Kemenangan Erlin-Syawal disebut-sebut tak lepas dari basis dukungan kuat di berbagai Fakultas, serta pendekatan kampanye digital yang menyasar isu-isu keseharian mahasiswa.
Kini, keduanya bukan hanya sebagai simbol kemenangan politik kampus, tetapi sebagai representasi dari gelombang mahasiswa yang menuntut BEM hadir secara nyata, baik di ruang akademik maupun sosial. (*)







