Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Uncategorized

Resmi, Bupati Sofyan Bergelar ‘Ta Uwa Lo Lahuwa’. Momentum Pelestarian Budaya dan Kontrol Diri

×

Resmi, Bupati Sofyan Bergelar ‘Ta Uwa Lo Lahuwa’. Momentum Pelestarian Budaya dan Kontrol Diri

Sebarkan artikel ini
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"addons":2,"transform":2},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}
Example 468x60

KABGOR – Pemerintah Kabupaten Gorontalo kembali menggelar prosesi adat Pulanga untuk Bupati sebagai wujud komitmen kuat dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur, dihadiri oleh para pemangku adat dari seluruh wilayah Gorontalo serta unsur tamu undangan, di Rumah Adat dan Rudis Bupati, Sabtu (17/10/26).

” Jadi terima kasih atas pelaksanaan kegiatan Pulanga pada hari ini dan terutama kepada seluruh masyarakat U Duluo Limo Pohalaa Gorontalo yang telah hadir hari ini melaksanakan kegiatan Pulanga.” Pungkas Bupati.

​Bupati Gorontalo menyampaikan bahwa tradisi Pulanga terakhir kali dilaksanakan pada masa kepemimpinan almarhum David Bobihoe Akib pada tahun 2007, atau sudah sekitar 19 tahun yang lalu. Menurutnya, pelestarian budaya ini sangat krusial agar generasi muda Gorontalo tetap memiliki ikatan yang kuat dengan akar budaya mereka.

​”Kalau bukan hari ini, kapan lagi kita bisa melestarikan budaya Gorontalo? Ini adalah kewajiban kita bersama untuk menjaga, melestarikan, dan memastikan budaya ini terus dimiliki oleh generasi masa depan,” ujarnya.

​Lebih lanjut, Bupati menegaskan bahwa gelar adat yang diberikan memiliki makna ganda yang sangat strategis. Di satu sisi, prosesi ini merupakan bentuk penghargaan kepada pemerintah. Namun di sisi lain, gelar adat tersebut berfungsi sebagai sarana kontrol sosial dan pagar pengaman bagi jalannya roda pemerintahan.

​”Ini adalah upaya dari seluruh lembaga adat dan pemangku adat agar pemerintah dapat berjalan pada koridor yang benar, baik dari segi regulasi maupun adat istiadat. Jadi, ini bukan sekadar penghargaan, tetapi juga pengawas agar kita senantiasa terjaga,” tambahnya.

​Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mengungkapkan alasan di balik keputusannya yang sempat menolak gelar adat ini sebanyak dua kali, yakni pada tahun 2025 dan saat perayaan Hari Raya Idul Adha.

Ia mengaku sempat ingin memfokuskan ruang kerja serta melihat kondisi riil masyarakat terlebih dahulu. Namun, pada kesempatan kali ini, ia tidak dapat menolaknya kembali demi menjalankan visi besar membangun Kabupaten Gorontalo yang beragama, berbudaya, unggul, dan kompetitif.

” Ini amanah yang besar, bagaimana pesan-pesan Tahuda dengan para bate-bate, itu pesan yang luar biasa dan saya dipagari oleh kisi-kisi adat itu sendiri.” Kata Bupati.

” Jadi tidak sekadar penghargaan tapi kontrol dan menjaga diri, saya sudah dijaga oleh adat, lembaga adat, enggak bisa berbuat hal-hal yang diharapkan atau tidak diharapkan oleh lembaga adat sendiri,” katanya lagi.

​Melalui pelaksanaan Pulanga ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo berharap sinergi antara pemerintah dan lembaga adat dapat terus terjalin erat demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Dalam proses Pulanga ini, sejak pagi semuanya sudah dipersiapkan. Turun secara adat dari Rumah Adat Banthayo Poboide Gorontalo, Bupati bersama keluarganya naik 3 kenderaan lokal Bendi yang tuntun tarik oleh seorang kusir hingga kedepan rumah dinas.

Disini, tarian tradisional Langga penyambutan lengkap dengan syair syair adat Gorontalo di ucapkan oleh setiap pemangku adat. Proses itu hingga berlangsung sampai dalam rumah dinas, berlanjut hingga proses proses adat selanjutnya. (*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *