
Gorontalo, Potretnews.id— Perhelatan Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII yang berpusat di Provinsi Gorontalo resmi ditutup. Selain meninggalkan catatan sukses atas berbagai transaksi agribisnis dan pertukaran teknologi tani-nelayan, event akbar nasional ini menyisakan kesan mendalam di hati ribuan peserta dari seluruh penjuru Nusantara.
Salah satu hal yang paling membekas bagi para peserta luar daerah adalah identitas kultural Gorontalo sebagai “Serambi Madinah.” Nilai-nilai religiusitas yang menyatu erat dengan adat istiadat setempat memberikan pengalaman spiritual dan sosial yang unik bagi para perantau sektor agraria ini.
Toleransi yang Menyejukkan dari Sudut Pandang Bali
Pak Sandi, seorang peserta kontingen asal Provinsi Bali, mengaku sangat terkesan dengan atmosfer kedamaian di Gorontalo. Sebagai warga yang tumbuh besar dengan tradisi Hindu yang kuat, ia melihat bagaimana falsafah “Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Kitabullah” di Gorontalo justru melahirkan keterbukaan terhadap pendatang.
”Awalnya saya mengira julukan Serambi Madinah akan membuat suasananya sangat kaku bagi kami yang berbeda keyakinan. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Masyarakat Gorontalo sangat ramah, toleran, dan memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Kita lebih aman kemana-mana, rasa persaudaraannya universal,” ungkap Sandi saat ditemui di area pameran menjelang penutupan, Rabu (24/6).
Aceh dan Gorontalo: Kedekatan Spiritual Dua Serambi
Kesan mendalam juga datang dari Icha, peserta asal Aceh yang daerahnya sendiri berjuluk Serambi Mekkah. Bagi Icha, menginjakkan kaki di Gorontalo terasa seperti menemukan “saudara kembar” spiritual di belahan timur Indonesia.
Ia menyoroti bagaimana nilai-nilai Islam melandasi kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo, mulai dari kuliner yang dijamin kehalalannya hingga sayup suara mengaji yang terdengar dari masjid-masjid di sela-sela riuhnya agenda Penas.
”Ada rasa aman dan kedekatan emosional yang langsung terbangun. Sebagai sesama daerah yang menjunjung tinggi hukum adat dan syariat, saya melihat Gorontalo sukses mempertahankan jati diri religiusnya di tengah modernisasi. Julukan Serambi Madinah itu sangat hidup, bukan sekadar slogan,” puji Icha.
Kagum pada Kehangatan dan Kuliner Binthe khas Gorontalo
Sementara itu, sosiokultural Gorontalo juga memikat perwakilan dari Sumatera Utara, pak Danur. Pria asal kabupaten Asahan ini mengaku terpukau dengan bagaimana nilai keagamaan berpadu dengan kuliner lokal yang kaya rempah namun tetap ramah di lidah semua orang.
”Di Sumut kami terbiasa dengan keberagaman yang dinamis. Di Gorontalo, kebersamaan itu dibungkus dengan kenyamanan. Setiap berinteraksi dengan warga, apalagi tempat yang kami tempati tutur katanya sangat ramah,”
Ditambah lagi, kuliner seperti Binthe Biluhuta (milu siram) yang segar itu disajikan dengan kehangatan khas tuan rumah. Kami merasa sangat dihormati selama di sini,” kata Danur sembari saat ditemui di standnya.
Penutupan Penas KTNA XVII Gorontalo ditutup langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dengan dihadiri lebih 50 ribu peserta. Bagi para peserta, kepulangan mereka kali ini tidak hanya membawa ilmu pertanian atau kontrak bisnis baru.
Lebih dari itu, mereka membawa pulang cerita tentang sebuah daerah di teluk Tomini yang masyarakatnya teguh memegang agama dan adat, namun tetap membuka tangan lebar-lebar untuk memeluk keberagaman Indonesia. Gorontalo telah sukses membuktikan diri sebagai Serambi Madinah yang teduh, inklusif, dan tak terlupakan.











