POTRETNEWS.ID, Gorontalo – Pembeli sapi dari luar Daerah Gorontalo merasa dirugikan dengan aktivitas pasar hewan sementara di Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo.
Keluhan itu lantaran pasar hewan yang ada di tiga lokasi tersebut tidak mengantongi dokumen jual-beli yang jelas.
Adapun tiga lokasi pasar hewan yang ada di Pulubala, dua lokasi terletak di Desa Tridharma, sementara satu lokasi berada di Desa Pulubala.
Seperti yang dialami oleh Agus, salah satu pembeli dari Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang menuturkan bahwa dirinya tiba di lokasi pasar pada pukul 08.00 Wita dan bermaksud membeli sapi untuk persiapan lebaran Idul Adha.
Akan tetapi, dirinya membatalkan niatnya membeli sapi, karena terkendala dengan tidak mendapatkan surat/bukti pembelian.
“Saya tahu pasar hewan di Kecamatan Pulubala ini termasuk pasar hewan terbesar dan harga sapi tergolong murah, ketika saya mau bertransaksi ada yang menyampaikan bahwa, tidak ada surat jual beli, sebab lokasi pasar hewan bermasalah dan tidak ada yang mau mengeluarkan surat jual beli,” tutur Agus, Rabu (30/4/2025).
Hal senada juga disampaikan, Haji Ahmad, dari Kota Palu. Dia mengatakan, setelah melihat keadaan pasar yang tidak jelas dokumen transaksi jual-beli, Ahmad pun membatalkan niatnya untuk membeli.
“Saya datang jauh – jauh dari Palu, mau beli sapi 5 ekor untuk persiapan hewan qurban. Niat membeli sapi saya batalkan karena mendengar tidak ada surat jual beli. Biasanya kalau kami mau melewati batas antara daerah dan membawa sapi, pasti ditanyakan dokumen jual beli,” katanya
“Di pasar ini tidak ada dokumen itu, jangan sampai kami paksakan untuk membeli sapi dan tidak ada dokumennya, kami lagi yang bermasalah dengan petugas, pasti sapi kami ini dianggap sapi curian,” lanjutnya.
Akibat dari ketidakjelasan lokasi pasar dan dokumen transaksi jual beli tersebut, para pedagang sapi mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Salah satu pedagang sapi, Hasnan Lahay, yang mengalami dampak kerugian, mengatakan Pemerintah Kabupaten Gorontalo dalam hal ini Bupati Sofyan Puhi dapat mendengarkan keluhan para pedagang, dengan mengagendakan pertemuan bersama guna membahas permasalahan tersebut.
“Saya berharap kiranya pak bupati mengundang semua pihak dan kami juga sebagai pedagang tolong diundang, saya pastikan teman – teman pedagang akan hadir, agar ada solusi kedepan untuk masalah ini,” pinta Hasnan. (*)







