POTRETNEWS.ID, Gorontalo – Kerusakan jembatan di Desa Pulubala, Kabupaten Gorontalo, yang tak kunjung diperbaiki, memicu reaksi dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Hukum Universitas Gorontalo (UG), Naviq Gobel.
Dari tinjauan lapangan, Naviq yang juga didampingi Presiden BEM UG, Erlin Adam, melihat langsung kondisi jembatan tersebut. Bahkan mereka sempat berbincang-bincang dengan Pemerintah Desa setempat.
Dalam perbincangan itu, Naviq bilang, jembatan itu sudah lama ambruk, namun tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Sehingga, menyebabkan 600 Kepala Keluarga (KK) terisolir dan menghambat jalur pendidikan untuk warga setempat.
“Yang lebih memprihatinkan, jalur utama yang digunakan anak-anak untuk berangkat ke sekolah kini terputus, sehingga mengancam hak dasar pendidikan mereka,” ujar Naviq dalam narasinya usai meninjau kondisi jembatan, Rabu (30/4/2025.
Naviq menilai, kondisi ini jelas menunjukkan kelalaian Pemerintah Kabupaten Gorontalo dalam memenuhi kewajiban untuk menyediakan infrastruktur dasar bagi rakyat.
“Padahal, akses jalan dan jembatan bukan hanya soal fasilitas, melainkan hak warga untuk bergerak, bersekolah, dan menggerakkan roda ekonomi,” katanya.
Dirinya mendesak Pemerintah Daerah tidak boleh lagi menunda persoalan ini. Naviq menegaskan, semakin jembatan ini dibiarkan ambruk maka semakin besar pula penderitaan warga di wilayah tersebut.
“Semakin lama dibiarkan, semakin besar pula penderitaan masyarakat, terlebih menjelang musim hujan yang bisa memperparah kerusakan,” tegasnya.
Terlebih lagi, yang memicu desakan itu, lantaran Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, sebelumnya pernah menyatakan akan segera memperbaiki runtuhnya jembatan tersebut.
Sofyan mengatakan, bahwa pihaknya akan segera membangun jembatan sementara dalam waktu dekat.
“Mulai minggu depan akan dikerjakan (perbaiki). Jadi itu kita pinjam dengan anggaran yang kita kerjasamakan dengan Pemprov,” ujarnya kepada media pada Selasa, 15 April 2025.
Namun, kenyataan menjukan lain, hingga sampai saat ini, jembatan itu nampaknya tidak ada perbaikan.
Naviq mengatakan, saat ini warga Pulubala butuh kepastian, bukan janji-janji kosong. Ia berharap Pemerintah Daerah segera mengatasi jembatan itu tanpa alasan birokrasi yang berbelit.
“Warga Pulubala butuh kepastian, bukan janji-janji kosong. Pemda harus segera memperbaiki jembatan tersebut tanpa alasan birokrasi berbelit. Bila terus diabaikan, ini bisa dianggap bentuk pembiaran terhadap penderitaan rakyatnya sendiri,” tutup Naviq dengan Nada tegas. (*)







