POTRETNEWS.ID, KABGOR – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup dan Milad ke-17 Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo), Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Mohuyula melakukan aksi nyata dengan menanam pohon dan membersihkan sampah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bionga-Kayubulan, Kelurahan Hutu’o, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Dengan mengusung tema “Bumi untuk Kita, Kita untuk Bumi”, kegiatan ini menggandeng berbagai pihak, termasuk Nusantara Fund, Pemerintah Daerah, BPDAS, Dinas Lingkungan Hidup dan SDA, Mapala Tilongkabila Universitas Gorontalo, komunitas pencinta alam, KNPI, Karang Taruna, Kambungu Beresi, BEM UMGo, dan IMM.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran aktif masyarakat sebagai garda terdepan dalam pelestarian lingkungan. Masyarakat didorong untuk mempertahankan wilayahnya, menjaga kearifan lokal, serta terlibat langsung dalam pengambilan keputusan terkait kebijakan lingkungan.
“Melindungi bumi tidak cukup hanya dengan retorika. Keadilan ekologis tidak akan tercapai tanpa keadilan sosial. Karena itu, masyarakat yang paling terdampak harus dilibatkan secara langsung dalam upaya pelestarian,” ujar Even Makanoneng, anggota Mapala Mohuyula UMGo.
Aksi ini meliputi penanaman pohon di bantaran sungai serta pembersihan sampah dari badan sungai dan lingkungan sekitar. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mencegah banjir, menjaga ekosistem sungai, serta menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Bahaya Sampah Bagi Sungai

Mapala Mohuyula mencatat bahwa kondisi sampah di sungai Kelurahan Hutu’o cukup memprihatinkan. Terdapat setidaknya sembilan titik tumpukan sampah yang tersebar di Lingkungan II dan III, mayoritas berada di belakang rumah warga yang berdiri di tepian sungai.
Sampah-sampah ini tidak hanya menyumbat aliran air, tetapi juga menjadi sumber pencemaran yang serius. Terutama sampah plastik, yang dapat melepaskan bahan kimia berbahaya dan mikroplastik ke dalam air, mencemari ekosistem dan membahayakan kesehatan manusia.
Selain itu, sampah yang menumpuk di sungai dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan patogen penyakit, meningkatkan risiko penyebaran penyakit melalui air tercemar. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak kesehatan, seperti diare, kolera, disentri, tipus, hingga penyakit kulit.
Melalui aksi ini, Mapala Mohuyula berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
“Ini bukan hanya aksi bersih-bersih biasa. Ini adalah gerakan bersama untuk masa depan bumi yang lebih baik,” tutup Even. (*)











