Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Gorontalo

Merdeka Di atas Tanah Yang Merdeka Lebih Dulu

×

Merdeka Di atas Tanah Yang Merdeka Lebih Dulu

Sebarkan artikel ini
(foto. Istimewa)
Example 468x60

Oleh: Man’uth Mustamir Ishak

POTRETNEWS.ID, OPINI – Di bumi yang senyap ini, tanah masih menyimpan suara para aulia. Jejak para wali, guru-guru tua, dan raja-raja yang bertakhta dengan cahaya.

banner 325x300

Gorontalo bukan sekadar wilayah, ia adalah warisan spiritual, tempat ilmu dan iman bertemu dalam adat dan alam. Dari Datuk Ri Bandang hingga Sultan Amai, dari Benteng Otanaha hingga Langga di Bongo, tanah ini diberkahi lebih dulu dan merdeka dalam makna yang lebih dalam.

Dan ketika penjajah datang membawa senapan dan peta kekuasaan, Gorontalo tak tunduk begitu saja. Rakyat bangkit — bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan kesadaran bahwa kami bukan tanah yang bisa dijual.

23 Januari 1942, di bawah pimpinan Nani Wartabone, Merah Putih dikibarkan, Indonesia Raya dinyanyikan, dan satu negeri kecil di Timur menyatakan: “Kami telah merdeka!”

Itu tiga tahun lebih awal dari Proklamasi 17 Agustus 1945. Artinya, kami tidak menumpang dalam sejarah Indonesia. Kami adalah bagian dari yang lebih dulu berseru: Lawan ketidakadilan! Lawan penjajahan!

Tapi kini, apa yang tersisa dari kemerdekaan itu? Tanah kami, yang dulu dijaga oleh para aulia dan dipertahankan oleh para pejuang, hari ini digali habis oleh alat berat. Gunung-gunung dilukai, sungai-sungai tercemar, sawah digusur, hutan ditebang.

Di Kabupaten Bone Bolango, Pohuwato, juga wilayah tambang lainnya, investasi masuk tanpa permisi. Tiba-tiba, tanah kami punya pemilik baru. Rakyat hanya diberi status “pengganggu”. Bagaimana mungkin kami dianggap ilegal di tanah yang kami warisi secara sah dari leluhur kami? Yang melawan, dituduh makar. Yang bertahan, dicap menghambat pembangunan.

Padahal, pembangunan yang tidak menghadirkan keadilan, hanya perampokan yang dibungkus dengan bendera. Masihkah Merah Putih berkibar untuk kami? Atau hanya menjadi simbol yang dikibarkan di atas luka yang kalian tutupi dengan seremoni? Kami ingin bertanya kepada kalian, apakah ini arti dari kemerdekaan?

Jika rakyat di tempat yang lebih dulu merdeka, hari ini justru hidup dalam ketakutan, kemiskinan, dan keterasingan. Kami ingin hidup tenang, di tanah yang diwariskan para aulia dan diperjuangkan para pahlawan. Kami tidak menolak kemajuan, tapi kami menolak dijajah kembali — oleh mereka yang datang dengan senyum di bibir dan izin di tangan. Kami hanya ingin satu hal: Merdeka…! di atas tanah yang lebih dulu merdeka. (*)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *