POTRETNEWS.ID, KABGOR – Momentum wisuda Universitas Gorontalo kali ini terasa begitu berbeda. Perbedaan itu tampak dalam nuansa sakral yang hadir tanpa kehadiran dua tokoh berpengaruh di kampus perjuangan.
Ya, mereka adalah Prof. Rustam Akili dan Ir. Alex Olii — dua figur yang sangat lekat dalam kehidupan kampus yang juga dikenal sebagai tempat bernaungnya para aktivis.
Dalam orasinya, Ketua Yayasan Pendidikan YP-DLP Gorontalo, Dr. Rolly Paramata, SE., MM, cukup membuat para tamu undangan merenung sesaat, disertai mata yang sedikit berkaca-kaca, mengingat kembali perjuangan yang diemban oleh tokoh kampus, Rajawali kampus, pangeran politik, almarhum Prof. Rustam Akili.
“Di tengah sukacita menyambut kelulusan anak-anak bangsa, ada sebuah kekosongan yang amat dalam,” ungkapnya dengan nada senduh.
Ia lalu melanjutkan dengan mengungkapkan suasana emosional pada momen wisuda kali ini.
“Hari ini terasa berbeda. Ada sosok yang biasanya selalu hadir di tengah kita. Berdiri di panggung ini, menyapa kita dengan sanjung hangat, memberi semangat dengan suara yang bergetar oleh cinta kepada pendidikan,” lanjutnya sambil menahan tangisnya.
Rolly kemudian mengajak seluruh hadirin tamu undangan dan para wisudawan untuk mengenang sosok penting yang telah berpulang ke rahmatullah itu.
“Namun hari ini, beliau tidak lagi berada secara fisik di tengah kita. Beliau telah berpulang ke rahmatullah, meninggalkan kita semua dengan warisan perjuangan, pengabdian, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Itulah Sang Rajawali Pendidikan (Prof. Dr. H. Rustam HS Akili),” bebernya dengan penuh haru.
Ia juga membeberkan peran jejak almarhum dalam membangun kampus ini sejak awal.
“Beliau adalah pendiri, penggerak, penjaga, dan pelindung Universitas Gorontalo,” ucapnya.
Tidak hanya itu, lanjut Rolly, almarhum Prof. Rustam telah menempatkan kampus ini dalam posisi istimewa dalam hidupnya.
“Lebih dari itu, beliau adalah jiwa dari kampus ini. Seseorang yang memperlakukan lembaga ini seperti anak kandungnya sendiri—disayanginya, dibesarkannya, menjaganya bahkan dengan darah dan air mata,” ungkapnya.
Ia juga mengenang semangat juang Prof. Rustam di masa awal pendirian kampus ini.
“Saya masih ingat, beliau bercerita dulu, tak banyak yang percaya, tak banyak yang mendukung. Tapi beliau tetap berdiri, karena bagi beliau, membangun kampus ini adalah bentuk ibadah,” kenang Rolly.
Ketua yayasan itu pun menggarisbawahi makna perjuangan pendidikan bagi almarhum.
“Dan memperjuangkan pendidikan adalah cara beliau mencintai tanah Gorontalo. Beliau menyebut universitas ini sebagai ‘kampus perjuangan’. Dan benar, perjuangan itu nyata,” tutur Rolly.
Rolly juga menegaskan gaya kepemimpinan yang penuh keteladanan dari almarhum Prof. Rustam Akili
“Kami menyaksikannya dengan mata kepala kami sendiri. Beliau tidak hanya memimpin dengan otak, tapi beliau memimpin dengan hati.,” katanya.
Ia menambahkan, Prof. Rustam bukanlah orang yang haus penghormatan, tetapi patut dikenang dengan penuh kehormatan:
“Beliau tidak meminta untuk dihormati, tapi layaknya dikenang dengan segala kehormatan,” ucap Rolly
Sebagai bentuk penghargaan dan cinta mendalam, lanjut Rolly, pihak yayasan dan civitas akademika Universitas Gorontalo memberikan penghormatan khusus:
“Sebagai bentuk cinta dan penghargaan kami yang mendalam, maka kami keluarga besar Yayasan Duluwo Limo Lo Pohala’a Gorontalo dan civitas akademika Universitas Gorontalo memberi nama gedung ini (UGCC) sebagai Prof. Rustam Akili Convention Center, yang telah kita launching tadi,” tuturnya.
Rolly menutup orasinya dengan kalimat penuh makna tentang jejak abadi sang rajawali pendidikan tersebut.
“Sebuah nama yang terus hidup, bukan hanya di dinding bangunan ini, tapi di hati kami, diingat para dosen, dikenang para mahasiswa, dan sepanjang sejarah pendidikan di daerah ini,” ungkap Rolly sambil menyeka air mata.
“Gedung ini menjadi saksi bahwa ada seorang anak bangsa yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak Gorontalo dan sekitarnya,” tandasnya penuh haru. (*)










