Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

DIKLAT III BEM UG dan Paulo Freire

×

DIKLAT III BEM UG dan Paulo Freire

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Harun Alulu (Presiden BEM UG)

 

banner 325x300

POTRETNEWS.ID – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gorontalo (BEM UG) tidak hanya menjadi ruang representasi mahasiswa, tetapi juga tempat membangun kesadaran kritis dan jiwa perlawanan terhadap ketidakadilan. Sebagai pelopor gerakan mahasiswa di Universitas Gorontalo khususnya dan Gorontalo pada umumnya, BEM UG menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencetak generasi yang mampu membaca realitas sosial dan mengambil peran aktif dalam mengubahnya.

Dokumen pedoman perkaderan Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Gorontalo (KBM UG), BEM UG merancang proses pendidikan dan latihan (DIKLAT) tingkat I, II dan III yang tidak hanya mencetak mahasiswa sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Dengan tema-tema yang berakar pada isu penindasan, pembodohan masyarakat, dan perjuangan melawan ketidakadilan, DIKLAT BEM UG berupaya menciptakan mahasiswa yang sadar akan tanggung jawab moralnya terhadap masyarakat.

Jika Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan terkemuka, berkesempatan mengikuti DIKLAT III BEM UG kamis 23 Januari 2025 nanti, ia mungkin akan merasa seolah-olah gagasannya hidup dalam ruang dialektik perkaderan KBM UG di DIKLAT I, II dan III. Pendekatan pendidikan berbasis kesadaran kritis yang menjadi inti pemikirannya sangat terasa dalam setiap tahap proses perkaderan BEM UG. Mengintegrasi tema pembebasan dan Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) BEM UG menjadi representasi nyata dari konsep pendidikan pembebasan Freire.

1. Pendidikan sebagai Proses Pembebasan

Dalam Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire mengkritik sistem pendidikan yang bersifat banking, di mana siswa dipandang sebagai objek pasif yang hanya menerima informasi. Sebaliknya, ia menawarkan pendidikan yang membebaskan, yakni pendidikan yang menempatkan manusia sebagai subjek aktif yang mampu memahami dan mengubah realitasnya.

Pendekatan ini sejalan dengan pedoman perkaderan KBM UG yang membangun sistem pendidikan dialogis dan transformatif. Perkaderan (PARADIGMA dan DIKLAT) dirancang untuk mematahkan pola pikir pasif mahasiswa dan menggantikannya dengan kesadaran kritis. Setiap materi yang disampaikan tidak hanya bertujuan untuk memberi pengetahuan, tetapi juga untuk mengasah kemampuan analisis sosial dan keberanian untuk bertindak melawan struktur yang tidak adil.

Misalnya, diskusi dalam DIKLAT III BEM UG nanti, akan sering kali mengangkat tema ketimpangan sosial, perusakan lingkungan, hingga diskriminasi yang masih terjadi di masyarakat. Melalui pendekatan dialogis, peserta didorong untuk berbagi pengalaman, mengidentifikasi akar masalah, dan merumuskan langkah kolektif untuk mengatasinya.

2. Manusia sebagai Entitas Merdeka

Baik Freire maupun BEM UG memiliki pandangan yang sama tentang manusia sebagai entitas merdeka. Freire menegaskan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan dan memaknai hidupnya. Pendidikan, dalam pandangannya, harus menjadi alat untuk membebaskan manusia dari belenggu yang menghambat kemerdekaan itu.

Di BEM UG, prinsip ini tercermin dalam upaya membangun kemandirian mahasiswa sebagai individu yang sadar akan peran dan tanggung jawabnya. Pendidikan kader tidak hanya diarahkan untuk mencetak pemimpin, tetapi juga individu-individu yang mampu berpikir mandiri, kritis, dan berkomitmen pada nilai-nilai keadilan.

3. Mengubah Manusia dan Struktur

Kesamaan lain antara konsep perkaderan DIKLAT III BEM UG dan Freire terletak pada pemahaman bahwa pendidikan harus berfungsi ganda: membangun manusia sekaligus mengubah struktur sosial. BEM UG memandang bahwa kesadaran kritis yang tumbuh dari pendidikan harus diwujudkan dalam aksi nyata untuk mengatasi ketimpangan sosial yang ada.

Misalnya, setelah melalui DIKLAT, mahasiswa didorong untuk terlibat aktif dalam advokasi isu-isu kemahasiswaan maupun masyarakat. Baik itu terkait hak-hak mahasiswa, perlindungan lingkungan, hingga keadilan ekonomi, kader BEM UG diarahkan untuk menjadi penggerak yang tidak hanya memahami persoalan, tetapi juga memperjuangkan solusinya.

Freire juga menekankan bahwa pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menempatkan manusia sebagai bagian dari perubahan struktur sosial. Pendidikan yang hanya berfokus pada individu, tanpa mengupayakan perubahan kolektif, hanya akan menciptakan kesadaran yang stagnan.

4. NDP BEM UG

Dalam konteks pendidikan pembebasan, BEM UG menekankan pentingnya nilai-nilai universal yang melintasi batas etnis, agama, dan budaya. BEM UG percaya bahwa solidaritas adalah kunci untuk melawan penindasan, dan menerapkan prinsip ini dalam setiap proses perkaderannya.

Melalui DIKLAT III tersebut, BEM UG memastikan bahwa mahasiswa memahami pentingnya keberagaman sebagai kekuatan dalam perjuangan. Dengan menjunjung nilai inklusivitas, menciptakan ruang dialog yang terbuka dan mendorong solidaritas antarindividu, terlepas dari perbedaan latar belakang.

“Ketika pendidikan adalah alat pembebasan, mahasiswa tidak hanya belajar memahami realitas, tetapi juga bertindak untuk mengubahnya.”

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *