POTRETNEWS.ID, Gorontalo – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam BEM Nusantara dan BEM Provinsi Gorontalo menggelar aksi demonstrasi di depan Markas Polda Gorontalo, Selasa (6/5/2025).
Aksi ini merupakan bentuk desakan kepada institusi kepolisian agar bersikap tegas terhadap aktivitas tambang rakyat di Pohuwato, terutama terkait keberadaan kelompok yang dikenal sebagai Tim Joker.
Dalam orasinya, massa aksi menyuarakan empat tuntutan utama. Salah satu diantaranya adalah mendesak Kapolda Gorontalo agar segera menerima secara langsung dokumen yang berisi daftar nama dan bukti keterlibatan oknum kepolisian dalam jaringan pertambangan ilegal.
Koordinator BEM Nusantara Wilayah Gorontalo, Harun Alulu menegaskan, bahwa aksi ini tidak akan berhenti sebelum dokumen tersebut diterima langsung oleh Kapolda sebagai langkah awal penindakan resmi.
“Kami tidak akan berhenti sampai Kapolda atau Wakapolda menerima langsung dokumen yang berisi nama dan bukti oknum yang menggunakan namanya dalam pungutan tambang,” tegas Harun, selaku jenderal lapangan.

Lebih jauh, mahasiswa mendesak Kapolda untuk bersikap jelas dalam menyikapi persoalan tambang rakyat. Bila benar berdiri di sisi rakyat, maka tambang rakyat harus dibiarkan berjalan tanpa tekanan dan pungutan liar.
Namun, jika pendekatannya berbasis isu lingkungan, maka semua aktivitas tambang harus dihentikan secara merata, bukan hanya menyita ekskavator atau menahan rakyat kecil.
Aksi yang berlangsung secara damai itu sayangnya tercoreng oleh tindakan represif aparat kepolisian. Dua mahasiswa dari Universitas Ichsan Gorontalo, yakni Fadil dan Izul, mengalami luka akibat kekerasan dan harus mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Telaga. Tindakan tersebut mendapat kecaman keras dari para peserta aksi.
Adapun peserta aksi berasal dari sejumlah kampus di Gorontalo, seperti Universitas Ichsan Gorontalo, Universitas Bina Taruna, Universitas Gorontalo, dan STIKES Baktara. Mereka berkomitmen akan kembali turun aksi pada pekan depan. Hal ini sejalan dengan hasil komunikasi dengan pihak SPKT Polda Gorontalo yang menemui massa aksi. Para mahasiswa menegaskan tidak akan mundur sebelum ada komitmen nyata dari Kapolda dalam menindak oknum internal yang mencemari institusi kepolisian. (*)







